FILSAFAT “AKU”
Tujuan
berfilsafat adalah mencari sebuah kebenaran sejati. Pertama-tama filsafat harus
dimulai dengan kesadaran tentang “aku”. Di dalam “aku” tersimpan sebuah
kebenaran sejati yang tak ternilai.
Apakah
“aku” itu? Filsafat dimulai dari pertanyaan. Pertanyaan adalah bentuk keheranan
dan rasa kagum yang “memaksa” kita untuk
mencari jawaban atasnya, itulah berfilsafat.
Kembali ke pertanyaan “Apakah aku itu?”. “Aku” adalah “ada”, ada yang
bukan berarti tidak hilang. Pengetahuanku tentang aku “ada” adalah kesadaran bahwa “aku” manusia
“ada” dalam kepenuhannya. Tidak cukup kita hanya sadar tahu mengenai asal,
kelemahan, kekuatan, karakter, nama, dan sebagainya karena itu semua hanya
sebuah informasi tentang “aku”. Hal itu belum
merupakan kesadaran tentang aku. Kesadaran “aku” melebihi pengamatan inderawi
manusia. Kesadaran “aku” sekaligus sesuatu yang invisibilis[1] yaitu jiwa.
Jiwa dan raga adalah dua prinsip yang membentuk “aku”, walaupun keduanya saling
bertentangan. Apa yang diinginkan jiwa belum tentu apa yang diinginkan raga
begitu pula sebaliknya. Jiwa prinsipnya kekal abadi sedangkan raga prinsip fana,
hanya sementara, mudah rusak dan hilang. Tapi keduanya berpadu dalam diri “aku”
manusia.
Di
dalam kesadaran akan “aku” termuat harta benda yang berharga, yang harus
senantiasa digali dan dibagikan
(diaktualisasikan) dalam hidup. Karena di dalamnya tersimpan semua kebenaran
yang sungguh-sungguh indah. Manusia sadar akan “aku” yang ada yang utuh (penuh).
Memang kodratnya diciptakan lain daripada yang lain. “Aku” sebagai ada yang istimewa, istimewa karena
aku “ada” bukan berarti ada yang tidak hilang atau tidak ada di tempat. Tapi
kesadaran akan “ke-aku-an”ku itu yang tidak dimiliki mahkluk ciptaan lainnya. Istimewa karena “aku” bisa
berpikir, mempunyai akal budi. Cogito
Ergo Sum (aku berpikir maka aku ada) dideklarasikan Descartes mau
menegaskan bahwa manusia sangat istimewa dari binatang. Memang “aku” binatang
tapi binatang yang berakal budi.
Kesadaran
“aku” juga membawa penyadaran aku yang subjektif bukan objektif. Artinya aku
sadar bahwa aku aktor utama dalam seluruh aktivitas manusiaku. Bukan milik
tangan atau kakiku dan anggota tubuh yang lainnya yang merupakan pembentuk
keutuhan diriku sebagai manusia yang “ada”. Misalnya aku menendang bola, yang
menendang bola bukan hanya kaki saja tapi aku. Yang jelas aku menendang
menggunakan kakiku karena menendang sebuah aktivitas. Makna “aku” subjektif
adalah aku pemilik semua realitas ke-ada-an-ku.
Aku
subjektif juga membawa kodrat aku dialogal (berelasi). Aku yang berelasi
membutuhkan yang lain yang juga harus memiliki kesadaran akan “keakuannya” dan
itulah yang memungkinkan adanya relasi. Karena “aku” yang lain semakin
mengukuhkan “aku” yang penuh dan subjek. Manusia tidak dapat berelasi dengan
dirinya sendiri. Maka Ortega y Gaset mengatakan “aku” masih menyisakan “ruang
kosong” untuk diisi “aku” yang lain[2].
Aku sebagai pribadi membutuhkan orang lain untuk semakin mendukung “aku”
sebagai suatu realitas yang penuh. Misalnya untuk mempunyai baju aku harus
membeli dari orang lain, bahannya dibuat orang lain, dan sebagainya. Hal yang
penting aku merindukan seseorang untuk memenuhi bagian diriku yang kosong untuk
saling berbagi dan melengkapi. Aku tak bisa lepas dari orang lain, mereka
bagian dari kemanusianku, bagian dari kehadiranku.
Tuhan
menciptakan manusia dengan kesadaran keakuannya yang subjek, penuh, berelasi
dan sebagainya. Tidak hanya agar “aku” dapat berhubungan dengan alam dan “aku”
yang lain, tapi pertama-tama agar “aku” dapat berelasi dengan Tuhan. Tuhan
menyapa aku menanggapi, Tuhan bertanya aku menjawab. Itulah inti sari dari
kesadaran “aku”, relasi antara “aku” dan Penciptanya. Satu hal yang perlu
dicatat relasi aku dengan Tuhan akan baik apabila relasiku dengan alam dan
sesama manusia baik, begitu pula sebaliknya.
Seperti
yang dijelaskan di atas. “Aku” yang ada mempunyai dua prinsip dasar jiwa dan
raga (badan). Jiwa merindukan pembebasan dari kurungan raga agar bahagia. Tapi
bagaimana pun juga kenyataannya “aku” hidup dalam dunia yang fana. Maka dapat
diartikan bahwa hidup ini hanya sementara sekedar mampir minum. Menunggu kapan
jiwa bebas dari raga. Dalam proses menunggu ini apakah “aku” hanya duduk dan
diam saja?? Tidak! “aku” harus melakukan kebajikan-kebajikan untuk sesamaku,
alamku, dan Tuhanku. Nah!! Itulah filsafat sejati mencari kebenaran sejati dan
melakukan kebenaran sejati. Bukan filsafat yang mengawang-awang tapi nyata
dalam perkataan dan perbuatan sehari-hari untuk sampai kepada Allah Sang “Aku
adalah Aku yang Ada” (Kel 3:14).
FILSAFAT “LIYAN”
Sebelum mengetahui tentang “Liyan” pertama harus mengenali diri
sendiri “Know Your Self”. Berbagai
macam ilmu pengetahuan diberikan agar manusia dapat mengenal dirinya. “Know Your Self” sebuah kesadaran untuk
terus mencari kebijaksanaan.
Dalam Filsafat Timur “the self” adalah “Atman”. Atman yang abadi,
di luar akal budi, tak bisa disentuh oleh pengalaman inderawi, tak dapat dilukiskan
dengan kata-kata. Atman sumber
kebijaksanaan sejati itu yang hadir dalam diri semua orang. Apabila manusia
masuk ke dalam Atman. Ia akan
menemukan kebahagiaan, memeluk kebijaksanaan dan memberinya kesegaran air hidup
yang indah. Maka dapat dikatakan Atman
adalah Tuhan sendiri. Tuhan yang hadir dalam aku dan orang lain[3].
Otomatis Liyan harus dihormati sebab
tanda kehadiran Sang Absolut.
Tapi kenyataannya!! Dari zaman ke
zaman “liyan” identik dengan subyek
penderita, orang yang disingkirkan, orang yang tak dikehendaki, dan berada di
luar peradaban. Maka Sartre mendeklarasikan ungkapan “hell is the other” yang “mengagungkan” eksistensi diri. Bukan
berarti menolak keberadaan orang lain bahkan melenyapkannya. Tapi seorang
eksistensialis merangkai dunianya sendiri tanpa harus diganggu orang lain.
Selama orang tidak mengganggu duniaku, aku juga tidak mengganggu duniamu.
Seorang eksistensialis sadar bahwa
tidak bisa lepas dari orang lain. Eksistensialisme lahir dari ketidaknyamanan
dalam masyarakat. Ia ikut aktif dalam hidup bermasyarakat dengan sikap
kritisnya pada ketidakadilan. Ia tidak menyetujui hukum dan aturan yang
membatasi manusia untuk mengekspresikan dirinya. Baginya hukumlah yang me”liyan”kan. Baginya manusia memiliki
kebebasan mutlak untuk mengatur dirinya sendiri. Tanpa ada sesuatu yang
mengekang seolah-olah mengendalikan semuanya.
Siapakah “liyan” bagi eksitensialis?. Liyan
adalah orang yang mengancam dunianya. Orang yang merampas kebebasanku dan
kepenuhan aktualisasi diriku. Kebebasan yang mutlak dalam eksistensialis,
adalah kebebasan yang bertanggungjawab pada diri sendiri dan orang lain. Maka
sangat jelas “tanggung jawab” yang dapat menciptakan dunia yang lebih harmonis.